Senin, 14 Desember 2015

Nyamuk

Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia - Kubiarkan nyamuk betina itu hinggap tidak sopan di lututku. Bulu-bulu yang tumbuh lebat di situ terganggu geli, waktu kaki-kaki tidak tebal mahluk noktah hitam-putih itu menginjakinya. Kubayangkan waktu jarum yang mencuat dari mulutnya ibarat pipet tajam ; menusuk, sedot rakus darah milikku. Pencuri mini yang, sumpah untuk apa-pun, kubenci 1/2 mati. Kubiarkan dia hisap, telan dengan lahap kentalnya darahku. Selagi kelak perutnya membuncit, gemuk di isi cairan amis merah itu, kutunggu hingga dia terbang sempoyongan, mabuk senang dengan kelezatan anyir yang kuberi gratis.

Lantas, “Tasssh!! ”, kutepuk dia sampi remuk, penyet tidak berwujud. Hingga darah di perutnya muncrat, lumer tercampur pecahan badannya sendiri, di tanganku yang berdenyut nikmat lantaran pedih balas dendam. “Tak ada yang gratis, kawan, ” pekikku. “Kuajari kau langkah menjunjung hak punya orang lain, meskipun harga yang penting kau bayar yakni dengan mati naas di tanganku! ”. Kugaruk betisku takzim, haru yang bercampur dengan semburat gatal—penghormatan paling akhir yang kuberi pada jasadnya yang tidak lagi dikenali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar